SOCIAL MEDIA

Kebetulan facial wash udah habis, jadinya harus beli lagi. Awalnya sudah bulat tekad buat beli Sensatia Botanicals aja karena udah tau pasti bagus dan gentle banget di kulit. Tapi pas jalan-jalan ke Guardian Indonesia malah jadi belok beli Simple Skincare.

Simple Skincare ini meng-klaim kalau mereka alah Senstivie Skin Care Experts. Kebetulan gue memang lagi cari produk yang gentle, biasanya untuk yang kulitnya sensitif sudah pasti produknya super gentle.


Waktu di Guardian ada 2 jenis facial wash mereka, yang pertama itu yang jenisnya soap, yang satu lagi gel yang gue beli ini. Harganya sekitaran 60rb, tapi karena lagi diskon jadi cuma 40-50rban gitu. Super good deals.

Oke jadi ini pertama kali gue pakai Simple Skincare, apa yang terjadi?

Isi produk super banyak


Ini engga usah ditanyakan lagi karena kalian pasti bisa menilai sendiri seperti apa tampilan produknya. Buat gue ini biasa saja, tapi yang bikin dia good deals karena isi produk yang cukup banyak yaitu 150ml dan cuma 60rban! Untuk ukuran facial wash yang dipakai tiap hari ini engga akan bikin rugi.

Nah karena ini produknya gel, warna botolnya hijau tapi transparan. Bentuknya tube juga, buat gue ini kalau dibawa kemana-mana sih cukup nyaman walaupun agak makan tempat. Tapi gue engga komplain, banyak cara buat bisa bawa produk ini kemana-mana.

Tekstur yang ringan


Kalau dia gel udah pasti dia akan lebih ringan dari yang jenisnya krim gitu, tapi itu lebih ringan lagi. Bayangkan aloe vera gel tapi lebih cair. Gue cukup bahagia karena ini benar-benar penggambaran produk yang gentle ketika dipakai.


Ketika produk dipakaikan ke wajah pun terasa lebih lembut dan ringan. Hasilnya ya pasti engga akan strip down semua minyak di wajah lo kok, tapi cukup mengangkat kotoran yang emang harus diangkat.

Hasil baik-baik saja


Gue biasanya akan melihat apakah ini produk masuk di wajah gue adalah dengan engga breakout. Kalau habis pakai produk terus muncul jerawat kecil-kecil berarti produknya tidak diterima di wajah gue.

Simple Skincare ini pas pertama gue pakai mungkin engga berasa efek apa-apa. Tapi setidaknya gue engga breakout, jadi gue tetep pakai sampai sekarang (tulisan ini ditulis) udah 1 minggu wajah gue baik-baik saja. Tapi ada beberapa hal yang gue rasakan langsung, wajah lebih cerah dan lebih lembut, lebih bersih tanpa ngangkat minyak-minyak yang penting gitu makanya masih berasa lembab.

Engga akan membersihkan sepenuhnya


Facial wash ini gue pakai di tahap terakhir proses cleansing gue. Karena di gentle jadinya dia engga terlalu masuk sampai ke pori-pori buat ngebersihin, jadi gue tetap double cleansing sebelumnya supaya memastikan semua kotoran di wajah gue keangkat baru benar-benar nutupnya pakai facial wash Simple Skincare ini.


Ini juga gue pakai di pagi hari, cukup oke karena gue cuma mau ngangkat minyak-minyak yang dari semalam bertengger di wajah gue doang.

Gue akan tetap pakai produk ini sampai habis. Kesan pertama gue ini not so bad, dia benar-benar melakukan pekerjaanya sebagai sabun cuci muka yang gue butuhkan.

~~
Your Sunday Pills
by ranilukman
Umur 24 ini udah mulai tertarik ikut acara-acara seminar yang pembicaraannya lebih kepada self development gitu, soalnya lagi dimasa diri ini membutuhkan ekstra motivasi. Selain itu, acara seperti ini jadi ajang menambah koneksi.

Pas banget dikasih tiket gratis dari kantor buat hadir ke acara Indonesia Millenial Summit 2020 yang diadakan oleh IDN Media. Namanya aja Millenial Summit, makanya topik dan pembicaranya pun yang relevan dan asik-asik. Pasti kalian kenal semua deh.


Tapi, gue engga mau membahas bagaimana proses acaranya. Gue lebih membahas apa yang sudah gue dapatkan, yang sudah gue pelajari dari acara tersebut.

Tujuan gue hadir ke Indonesia Millenial Summit adalah menjadi ajang mencari motivasi yang sudah perlahan luntur, apalagi topiknya kebanyakan membahas bagaimana menggali kemampuan diri sampai trend yang bisa membantu. Gue rasa ini jadi ajang belajar gratis untuk gue dan mungkin beberapa orang lainnya.

Sesi pertama yang gue tonton adalah Education 4.0 : Building Human Resources For The Future dengan pembicaranya Nadiem Makarim dan Iman Usman dari ruangguru.com. Apa yang gue pelajari dari sini? Merdeka Belajar.

Gue rasa ini visi Nadiem buat pendidikan Indonesia tapi gue benar-benar relate banget. Gue ngerasa proses belajar gue dulu bukan mempersiapkan gue menjadi gue yang sekarang, malah membuat gue ingin menjadi seperti orang lain yang malah bukan gue. Akhirnya apa, setelah proses belajar 12 tambah 4 tahun gue selesai, toh gue harus belajar sendiri untuk menjadikan diri gue seperti sekarang.

Gue ditempa untuk bisa Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan IPA padahal gue pengen banget belajar alat musik dan karya seni.
Coba, dulu gue engga pernah ditanya "kamu maunya apa?" gue langsung disuapin "nih, kamu makan ini, ini dan itu" engga di rumah engga di sekolah.
Dari sesi ini gue belajar bahwa pendidikan gue dulu hebat ya bikin gue bertahan hidup sampai sekarang hanya karena gue engga mau kalah dan dicibir. Kalau dirasa dulu belajar kaya lagi digantung, kalau keselip sedikit bisa mati.


Sesi selanjutnya adalah Building Eastern Indonesia : No One Left Behind dengan pembicara petinggi BUMN seperti PT. Wijaya Karya, PT. Freeport, dan lain-lain. Pattern-nya adalah membahas infrastruktur di Indonesia Timur, karena menurut orang-orang, Indonesia Timur susah maju karena infrastruktur kurang.

Gue tertarik karena gue anak timur yang merantau, gue engga mau selamanya merantau, pengen dong gue pulang dan kerja aja di sana dan malah membangun di timur. Dari sesi ini gue belajar bahwa di Indoensia Timur mau maju itu infrastruktur harus bisa menyambungkan dengan semua daerah bagian di Indonesia. Agar distribusi apapun seperti sumber daya, pendidikan itu engga tertinggal makanya BUMN giat membangun di Timur, gue mau menjadi salah satu bagian dari hal tersebut namun bekerja di bidang gue.


Sesi selanjutnya yang gue tonton adalah Achieving Sustainable Development Goals : Lessons and Learnings dengan pembicara dari Danone, Indofood sama Prudential. Apalagi kalau berbicara bagaimana membangun namun tetap dengan keberlangsungan yang lama dengan impact pada lingkungan.

Gue cukup tertarik dengan Danone, bagaimana usaha Danone menjaga keberlangsungan lingkungan dengan tetap memproduksi produk yang terkenal dengan sampah plastiknya dimana-mana. Ternyata Danone sudah banyak melakukan usaha seperti punya bank sampah sendiri, memilah sampah sendiri, dan mendaur ulang sampah sendiri.

Cuma ini engga mau gue simpulkan jauh karena gue pun engga menyaksikan sampai habis, cuma ada beberapa poin yang bisa gue ambil.


Selanjutnya gue ikutan sesinya The Big Hit : How Do I Get There? ini dengan pembicara Baim Wong, Raden Rauf, Arief Muhammad dan dipimpin oleh moderator Reza Chandika. Penutup hari capek yang cukup menyenangkan.

Membahas menjadi content creator dengan konten yang targetted dan sesuai dengan passion lo. Di sesi ini sih belajar buat mengerti diri lo sendiri, memahami bahwa engga semua konten viral itu juga harus lo libatkan, dan benar-benar bikin konten yang lo banget.

Beberapa orang keluar dari ruangan tersebut dengan sikap percaya diri dan banyak ilmu.

Begitu juga gue.

~~
Your Sunday Pills
by ranilukman


Belajar dari Event Indonesia Millenial Summit 2020

21/01/2020

Gue baru pertama kali belanja baju bekas di pasar senen, dari info yang gue dapetin tempatnya nyaman, harganya murah, pilihannya banyak dan memang pusat baju bekas gitu. Akhirnya hari minggu, 12 januari 2020 gue memutuskan untuk tancap gas ke pasar senen.


Berbekal info dari Youtube dan juga temen gue, meluncurlah gue dan sepupu gue ke pasar senen blok 3. Ini gedung barunya dan cukup nyaman, yang jualan baju bekas semuanya ada di lantai 3, lantai 1 sama 2 gue juga engga tau jualan apaan soalnya engga sempet ngecek.

Kalau naik KRL, kalian turunnya di stasiun pasar senen dan keluar lewat pintu yang dekat parkiran motor, ini gue engga tau tepatnya dimana tapi biar aman tanya aja sama petugas disana pintu keluar yang paling deket ke pasar senen. Soalnya dari situ nanti tinggal jalan kaki 2 menit langsung nemu pasar senennya.

Nah pas udah keluar stasiun, langsung cari gedung yang warna oranye yang kelihatan lajur buat parkiran di rooftop gitu. Langsung aja menuju kesitu karena itu pusatnya. Kalau naik busway bisa turun di halte pasar senen dan jalan kira-kira 5 menit, kalo naik mobil langsung parkir di gedungnya!


Karena gue baru pertama kali dan sama sepupu gue juga jadi kita naik mobil, sama sekali engga nyiapin apa-apa selain pakai baju yang nyaman. Karena kalau baju kalian engga nyaman dijamin akan risih dan engga enjoy buat thriftingnya. Jadi gini tips belanja di pasar senen dari gue yang noob ini.

  1. Pakai baju nyaman. Kalau bisa jangan yang panjang-panjang dan bagus-bagus banget! Takutnya kalau pakai baju bagus malah dikasih harga mahal.
  2. Pakai tas selempang aja. jangan pakai totebag juga, jangan pakai ransel juga karena rawan copet kalau taruh belakang, kalau taruh depan malah jadi ribet. Jangan bawa tas gede-gede pokoknya.
  3. Bawa totebag buat isi baju-bajunya. Disini kalau belanja dikasih plastik gitu, kalau plastik kebanyakan ditenteng mending bawa totebag belanja gitu jadi semuanya masukin situ dan nenteng cuma satu. Lagian lebih ramah lingkungan dan sustainable.
  4. Siapin uang cash seperlunya aja. Jangan bawa kebanyakan takutnya kalian kalap dan jadi bingung uang tadi kemana, karena tau-taunya abis!
  5. Jangan rencanain mau beli apa deh, mending jalan-jalan hunting aja udah. Karena kalau direncanain bisa jadi engga dapet dan malah pusing sendiri.
  6. Datang dari pagi biar punya banyak waktu thrifting, kalau udah siang atau sore juga orang makin rame dan waktu makin dikit.
  7. Pinter nawar deh! Barang-barangnya emang udah murah, cuma kalau kalian keberatan ya ngga apa lebih baik ditawar kan jadi lebih hemat juga.
  8. Sabar dan teliti. Kunci thrifting adalah sabar, yaitu sabar liatin barang satu per satu, juga teliti cek barangnya apakah ada cacat atau engga.

Ini tips yang beberapa diantaranya gue harap gue tau sebelum pergi belanja di pasar senen.


Dari hasil belanjaan gue kemarin gue dapetnya cuma 2 baju dan 1 bucket hat. Sebenarnya gue niatan mau cari kaos sama sweater gitu malah dapet baju aja. Tuh kan jangan direncanain mau dapet apa deh, biasanya suka gagal.

Sepupu gue sendiri dia dapet banyak, kaos, celana pendek, kulot, sama celana-celana lucu gitu.

Total kita belanja itu 365.000 dapet 10 barang, hitung aja coba satunya jadi berapa. Dapet 5 celana, 2 kaos, 3 atasan dan 1 bucket hat.

Gue pengen lagi sih kesana dan benar-benar siap-siap gitu biar dapet lebih banyak, juga dateng dari pagi biar lebih lama.

~~
Your Sunday Pills
by ranilukman

Belanja Baju Bekas di Pasar Senen

15/01/2020


Gue anak yang suka banget baca buku yang ada fisiknya dibanding ebook, gue juga suka baca buku karena imajinasi gue bisa lebih liar, selain itu baca buku bikin gue lebih peka sama sekitar gue. Tahun 2019 kemarin udah 3 buku yang gue baca, dikit banget kok tapi kalau diingat-ingat wajar banget karena 2019 gue banyak yang terbengkalai.
Baca Juga : pentingnya rebranding
Nah, tulisan kali ini mau gue kasih liat 3 buku yang gue selesaiin di 2019 dan bagaimana menurut gue ketiga buku tersebut.

Do Not Disturb - A.R Torre



Ini buku yang gue dapatkan sata hunting di Big Bad Wolf Jakarta, incaran gue kemarin buku yang crime, mysteri rada thriller gitu ini dari sinopsisnya bikin gue penasaran. Harganya kalau asli 200rb-an, tapi karena di BBW dapetnya cuma 70rb dan kualitas masih bagus banget. Buku ini asli pake bahasa inggris btw jadi bacanya akan lebih asik buat kalian yang juga suka baca buku berbahasa inggris gini.

Kalau di goodreads ini buku ratingnya 4 dari 5, authornya Alessandra Torre dan buku ini merupakan lanjutan dari "The Girl in 6E" dengan genre erotic literature, mystery, thriller, suspense, horror fiction, psychological fiction. Gue engga baca The Girl in 6E, tapi buku Do Not Disturb ini engga bikin gue left out sama cerita sebelumnya juga, dan engga bikin ceritanya jadi bolong-bolong.

Gue pas baca buku ini lebih penasaran untuk tiap kejadian dan bikin penasaran akhirnya gimana, seperti yang gue bilang baca buku bikin imajinasi gue liar, dengan buku ini lebih-lebih lagi. Banyak cerita dalam buku yang penggambarannya cukup jelas untuk bagian dewasanya, yang kalau dijadikan film gue yakin engga akan semenyenangkan itu. Habis baca buku ini jadi penasaran cerita selanjutnya, karena ada buku selanjutnya "If You Dare", cuma akhir cerita engga ngegantung kok jadi engga baca cerita selanjutnya juga menurut gue engga masalah.

Good As Gone - Amy Gentry



Buku ini kalau di goodreads ratingnya 3,5 dari 5 lebih rendah dari Do Not Distrub, tapi menurut gue ceritanya bagus. Cuma pendapat gue, gue rasa kenapa ini ratingnya rendah karena beberapa cerita kaya terlalu scattered dan ngebingungin.

Good As Gone ini genrenya mystery, thriller, suspense, psychological fiction. Walaupun menurut gue ceritanya scattered tapi tetap bikin lo penasaran buat baca lagi dan cari tau apa yang sebenarnya terjadi. Makanya selama gue baca buku ini, gue salalu berusaha keras buat fokus dan sampai beberapa kali harus bolak-balik halaman buat mastiin ini ceritanya apa dan alurnya udah sampai mana.

Sebenarnya bikin gue terlalu repot, tapi karena rasa penasaran gue bergejolak makanya gue baca sampai habis. Tapiiiiii, siap-siap dibikin gantung. Karena menurut gue ini akhirnya rada gantung gitu deh kaya gue masih mau lagi dan masih penasaran. Berasa ada sesuatu yang belum selesai aja.

Gue sih pengennya kalian baca juga buku ini dan kasih tau gue bagaimana pendapat kalian, apakah cuma gue yang ngerasa kaya gitu?

The Princesses Saves Herself in This One - Amanda Lovelace



Ini termasuk poem dan ini bukan buku gue, ini buku sepupu gue. Awalnya gue cuma iseng-iseng buka dan baca 1 lembar aja, tapi bikin lo pengen tahu apa isi halaman selanjutnya.

Gue kurang mengerti seperti apa buku jenis ini seharusnya, tapi menurut gue buku poem ini bikin lo malah penasaran tiap lembarnya. Seperti tiap lembarnya ngasih tau kehidupan yang kalau dilanjutin lo bakal tau happy ending  atau engga.

Yang gue ambil dari buku ini adalah ini kumpulan cerita dari authornya, cerita bagaimana dia bertahan hidup, bagaimana kesehariannya yang diringkas dalam kata-kata yang bikin lo terenyuh dan lubuk hati paling dalam sedih. Jujur, beberapa lembar dan kata-katanya bikin gue sedih juga, kaya lo masuk dalam kehidupan authornya gitu.

Amanda Lovelace juga punya beberapa jenis buku serupa yang gue juga jadi penasaran nyeritain kehidupan dia yang seperti apa. Ini jenis buku yang kata-katanya bisa lo pake buat jadi caption Instagram gitu.

Duh, jadi rindu baca buku lagi.

~~
Your Sunday Pills
by ranilukman

Buku Yang Gue Selesaikan di 2019

13/01/2020


Gue anaknya memang suka banget ngelihat orang-orang rapih, cantik dan ganteng hanya dari cara dia berpakaian. Terus gue gampang jatuh cinta gitu sama orang tersebut, dalam hati gue selalu aja pasti kesan orang itu positif.

Tapi, gue bukan orang yang seperti itu. Penampilan dalam hal berpakaian buat gue nomor 2, nomor 1 adalah gue nyaman. Ternyata gue bisa dapat keduanya dalam 1 tampilan, kuncinya adalah coba aja terus dan banyak-banyak cari inspirasi.

Tahun 2020 gue mau lebih aware sama cara berpakaian gue, mau lebih percaya diri juga. Makanya 1 minggu kemarin gue mencoba buat bikin OOTD ke kantor, biar gue bisa lihat sejauh apa tingkat kreatifitas gue mix n match tapi tetap terlihat nyaman.
Nyaman versi gue tuh gini :
1. Bahannya adem
2. Panjang bajunya melewati pinggang
Ngga aneh-aneh kan? gampang terpenuhi. Sekarang mau gue jabarkan outfit ke kantor gue dan bagaimana pendapat gue soal outfit tersebut.

Senin

Hari senin gue merasa badan yang udah luluh lantak, efek habis liburan dan cuaca yang ngaco bikin badan jadi lemes. Udah keliatan tanda-tanda demam, makanya gue milih baju yang tetap bergaya tapi bisa bikin hangat dikit-dikit. Dalamnya kaos putih hasil belanja mama di Tanah Abang, bahannya agak tebal jadi kalo pas gue kedinginan udah engga khawatir. Pakai jeans yang basic banget jadi engga ribet, Alhamdulillah celana jeans-nya stretchy jadi enak buat gerak-gerak. Pakai luaran hasil oleh-oleh sepupu di jogja, ini luaran bagus banget karena bikin tampilan kaya formal dan terlihat berpendidikan gitu.

Keputusan gue memilih outfit ini engga salah karen ditengah hari gue beneran demam, ngerasa dingin dan kaos putih ini mampu memberikan kehangatan.

Cuma gue agak menyesal mengombinasikan kaos sama luaran ini karena keduanya punya bahan yang smaa-sama tebal, kalau gue banyak gerak itu benar-benar ngga nyaman juga, kalau cuaca panas juga engga nyaman. Mungkin gue bakal cari alternatif dalaman untuk luaran batik ini selain kaos putih Tanah Abang.

Selasa


Hari selasa ini harinya gue masih sakit tapi harus masuk karena banyak kerjaan, karena gue masih demam jadi memutuskan pakai luaran yang agak hangat. Ini luaran punya kakak sepupu gue yang kebetulan ada di rumah, gue pakai deh sehari hehe. Dalamannya pakai tank top warna hitam dan celana katun hitam, karena luaran ini bahannya agak tebal jadi pilih dalaman yang super adem. Sudah belajar dari kesalahan hari sebelumnya.

Alhamdulillah luaran sepupu gue ini yang bikin gue kuat kerja di hari selasa karena suhu badan yang engga karuan tapi bisa tetap hangat sama outfit ini. Ini jenis outfit yang engga peduli seberapa intens dan lama kalian commute dari kantor ke rumah akan tetap terasa nyaman di cuaca yang lagi hujan dan dingin juga.

Rabu


Alhamdulillah hari rabu badan gue sudah mulai membaik, masih flu tapi setidaknya engga demam. Jadi engga harus pakai baju tebal-tebal karena jujur gue kurang suka pakai baju tebal-tebal, anaknya gampang keringetan dan kurang nyaman terkecuali kalau kondisi lagi demam.

Jadi hari rabu gue memutuskan pakai tunik model babydoll dari DYALODYA, phasmina beli di shopee, sama jeans yang stretchy itu. Ini paling adem, cukup nyaman dan sangat sopan juga.

Kamis


Hari ini tubuh gue sudah sepenuhnya berfungsi, dan hari ini gue lagi dalam suasanya pengen yang sporty gitu. Makanya pakai atasan denim dari Old Navy, ini ukuran yang lingkar dadanya 130cm, sengaja pilih yang oversize biar pakainya nyaman juga. Bawahannya pakai celana hasil berburu di shopee yang juga punya bahan super nyaman!

Hari ini sepatu juga pakai sepatu sporty gitu, nyaman banget di cuaca hujan maupun panas jadi praktis kalau pas jalan ketemu hujan engga ribet-ribet takut kaki basah hehe. Ini jenis outfit yang gue sangat nyaman pakai seharian penuh.

Jumat


TGIFFFFFF! Jadi mau pakai outfit yang gue tau dan yakin ini engga akan mengecewakan gue. Pakai tunik favorit dari DYALODYA, dan celana hasil berburu di shopee warna cream dan jilbab segiempat yang engga ribet pastinya. Karena jumat itu rasanya hari tersantai, jadi tampilannya juga maunya tetap berasa santai tapi terlihat modest.

Jujur ini outfit udah agak membosankan karena ini gaya yang sama sejak 2019, tapi kalo bikin nyaman ya gimana kaaan? Mungkin ini memang style gue banget?

Kalau mau gue urutkan dari yang ternyaman sampai ter-engga nyaman itu :
Jumat - Kamis - Selasa - Rabu - Senin
Kalau mau gue urutkan dari yang ter-stylist sampe yang engga banget itu :
Selasa - Kamis - Senin - Rabu - Jumat
Kalau mau gue urutkan dari favorit gue banget sampe engga banget itu :
Kamis - Jumat - Selasa - Rabu - Senin
~~
Your Sunday Pills
by ranilukman

Mencoba OOTD Nyaman Dipakai Ke Kantor

11/01/2020


Udah tau belum bullet journal? Sistem journalling yang lagi digandrungi ini udah gue terapkan sejak pertengahan 2017. Berawal dari suka nonton youtube, ketemu Amanda Rach Lee terus jadi pengen bullet journaling deh.

Bullet Journal adalah sistem jurnal yang bisa kita custom sendiri isi journal sesuai keinginan kita. Namun namanya sistem, tetap ada aturan dan arahan juga kok. Kalau penasaran dengan bullet journal, gue saranin cek langsung ke website mereka di www.bulletjournal.com.

Gue sendiri tertarik dengan bullet journal karena sistemnya yang fleksibel dan cocok banget. Permasalah gue dengan jurnal atau planner adalah semua yang tersedia di pasaran itu punya template yang engga memenuhi kebutuhan gue. Sedangkan dengan bullet journal, gue bisa membuat jurnal gue sesuai kebutuhan.

Alhamdulillah dari 2017 sampai awal 2020 ini gue masih aktif pakai bullet journal. Karena merasa sangat terbantu dan bikin gue cukup improve dalam produktifitas gue sehari-hari. Sure, there's a smartphone yang lebih accessible dan gampang, tapi gue udah terbiasa dengan gerakan menulis yang bikin gue lebih gampang mengingat pekerjaan dan hal-hal penting.

Eh, jadi bacot deh.

Kita kilas balik aja kali ya.

Awal Mula

Notebook pertama gue dari The Buddy Books, cek aja instagramnya. Karena sistem bullet journaling itu lo custom isi jurnal lo sendiri yang dimana ada gambar-gambar karena benar-benar dari 0, jadi kertas yang disaranin juga yang titik-titik, atau kotak-kotak. Nah, awalnya cuma di The Buddy Books gue menemukan buku dengan kertas sesuai kebutuhan gue. Harganya juga mursida dan covernya bisa custom pula.


Pada masa ini, gue lebih bermain dengan warna dan desain. Gue benar-benar terinspirasi dari Amanda Rach Lee ketiplek plek plek. Pokoknya dia bikin tema apa bulan itu gue ikutin deh, sampe-sampe rela ke Intermedia buat beli spidol warna baru. Aduh masa ini bikin kangen sih, karena proses jurnalnya cukup rileks dan bisa mengisi waktu luang gue banget.

Pada awal mula ini juga sistem jurnal yang gue pake itu mirip kebanyakan orang di pinterest sama youtube, ada mood tracker, habit tracker, sampe ada budget tracker. Pas di kilas balik nih, ini semua sangat engga berguna buat gue pada saat itu mengingat dulu gue super lalai. Tapi jadi bikin gue lebih banyak belajar dan bisa improve lagi.

Momen Jungkir Balik

Saat ini kenapa namanya momen jungkir balik? Karena saat gue udah sibuk kerja dan gue benar-benar minim waktu untuk duduk merias jurnal gue. Makanya gue pakai desain yang sederhana, tapi tetap ada warna yang minim effort. Saat ini juga gue udah agak engga berkiblat ke Amanda lagi, referensi gue kebanyakan dari Instagram dengan kata kunci minimalistic bullet journal.


Alasan selanjutnya kenapa ini momen jungkir balik karena ini ketika gue mempertanyakan fungsi gue pakai bullet journal untuk apa? apa cuma buat FOMO atau memang ada fungsinya, makanya beberapa spread itu kosong dan isinya cuma kaya to-do list aja jurnal ini.

Eh ngomong-ngomong notebooknya masih dari The Buddy Books, tapi kali ini covernya gue desain sendiri terinspirasi dari scene Harry Potter buku Ke-2.

Ah Elah Bodo Amat

Ini 2019 benar-benar isinya bodo amat, gue hanya akan fokus ke hal-hal yang benar-benar bermanfaat buat gue. Di poin ini juga gue memutuskan bahwa menggunakan bullet journal adalah untuk mengorganisir hidup gue lebih baik lagi, makanya isinya hanya hal-hal yang benar-benar gue pakai.


Engga ada lagi tuh hias menghias pake warna-warna, jadi lebih hemat deh buat engga beli Zebra Mildliner yang bikin gue miskin. Gue cuma mengandalkan brush pen sama pulpen Sarasa dan spread yang gue pakai pun kaya kalender bulanan, idea dump, sama hal-hal yang berhubungan sama kondisi kerjaan gue. Makanya saat ini itu bullet journal gue benar-benar ada fungsinya dan engga asal FOMO.

By the way, ini notebooknya juga masih dari The Buddy Books (eh tapi ini beneran bukan sponsor ya, gue cuma belum nemu yang pas pada saat ini) tapi bedanya kali ini gue beli yang covernya faux leather dan ada karet tepian gitu.

New Chapter, elah.

2020 ini gue akan mencoba memfungsikan bullet journal gue untuk mencapai visi misi untuk kehidupan dunia dan akhirat yang lebih baik. Isinya engga neko-neko kok, masih sama seperti yang sebelumnya cuma gue tambahin kaya habit i like to keep, improve and leave, terus goals & plan, sama 21 before 2021. Pokoknya memfungsikan untuk benar-benar membenahi diri gue deh.


Selain itu untuk desain pun gue lebih ke arah sederhana namun agak rias merias sedikit. Mungkin ini terpengaruh karena notebook baru kali yaaa. Kali ini notebooknya dari Typo, gue suka karena kertasnya enak dan spasi titik-titiknya itu engga besar-besar jadi bisa muat isi semua tanggal untuk 1 tahun. Harga agak mahal dari The Buddy Books, tapi wajar karena ada harga ya ada kualitas, karena kualitas juga cukup beda jauh.

Selain itu, 2020 ini bullet journal gue niatkan untuk gue pakai setiap hari. Bukan hanya untuk nyatet kerjaan gue ngapain, tapi setiap harinya sebelum tidur gue berusaha untuk ngejurnal, yaitu dengan pakai gratitude log, yang penasaran boleh cari tau aja di Google.

Ah, asiknya bullet journal.

~~
Your Sunday Pills
by ranilukman

Kilas Balik Pakai Bullet Journal

09/01/2020

Instagram @yoursundaypills